Waktu Yang Menyembuhkan

Intisari-Online.com – Sering kali orang berkata, “Waktu yang akan menyembuhkan.” Ini tidak benar kalau kita berpikir bahwa kita akan melupakan luka-luka yang kita sandang dan dapat terus hidup seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Itu bukan penyembuhan, melainkan sekadar menyangkal kenyataan.

“Waktu menyembuhkan” berarti bahwa kesetiaan dalam hubungan yang sulit, berat, dan tidak memberikan kepuasan, dapat membuat kita lebih mengerti tentang cara-cara kita saling melukai. Kalau diartikan demikian, waktu memang menyembuhkan.

Keyakinan bahwa waktu menyembuhkan tidak membuat kita menunggu dengan pasif. Sebaliknya, kita didorong untuk bekerja secara aktif sekuat tenaga sambil percaya bahwa pengampunan dan pendamaian selalu mungkin diperoleh.

Tidak seorang pun dapat terhindar dari luka. Kita semua adalah orang-orang yang terluka, entah secara fisik, emosional, mental, atau spiritual. Kita tidak bertanya, “Bagaimana kita dapat menyembuhkan luka-luka kita?” supaya perasaan kita tidak terganggu. Kita diharapkan bertanya, “Bagaimana kita dapat memanfaatkan kerapuhan kita itu bagi pelayanan bagi sesama?

Kalau luka-luka kita tidak lagi menjadi sumber rasa malu melainkan menjadi sumber penyembuhan, kita menjadi orang-orang yang terluka yang menyembuhkan. (Bread for the Journey)

Iklan

Memaafkan Ibarat Mencabut Jarum

Intisari-Online.com – Suatu hari Guru menjelaskan kepada para muridnya sebuah pelajaran tentang cara menjaga hati. Guru itu memegang jarum-jarum di tangan kirinya dan spons di tangan kanannya. Sambil menunjukkan kepada mereka ia berujar, “Anak-anakku lihat ini. Setiap kali kamu melukai hati seseorang, kata dan perbuatanmu itu bagai jarum ini masuk ke dalam hati. Tampaknya tidak merusak namun sangat menyakitkan.

“Selama engkau tidak mampu mengampuninya dan memaafkan orang lain, selama itu pula jarum itu tertinggal di sana. Dan andai engkau sudah mampu mengampuninya dan engkau sudah mengeluarkan jarum-jarum itu, perhatikanlah, engkau masih harus rela memberikan waktu untuk pemulihan atas kerusakan akibat jarum-jarum ini.”

Kelas itu tampak hening. Rupanya setiap murid mencerna sungguh kebenaran dari apa yang dikatakan gurunya. Guru itu melanjutkan, “Sekarang pulang dan lakukan itu dalam hidupmu.”

Memang, butuh waktu untuk pemulihan dan kesembuhan. Kita tidak bisa memaksakan hal itu dari satu pihak. Kemampuan dan kerelaan untuk memaafkan dan menerima kekurangan seseorang adalah obat dan cara terbaik untuk kesembuhannya.

Semoga kita diberi kemampuan untuk senantiasa menjaga keutuhan hati sesama dan terbiasa memaafkan kekeliruan dan kesalahan orang lain.

Kasih Menghalau Kabut Gelap Kebencian

Di suatu senja seorang murid bertanya kepada gurunya, “Guru mengapa bisa timbul kebencian dalam hidup ini?” Sang guru membawa murid itu ke tengah pasar. “Lihat pedagang sayuran itu, mengapa dia tampak riang? Dan lihat di sebelahnya mengapa tampak marah-marah?” Murid itu menjawab cepat, “Pedagang itu riang karena banyak pembelinya, dan satunya marah karena tidak laku buah jualannya.”

Guru itu menimpalinya lagi, “Kebencian muncul pertama-tama karena perbedaan. Kedua, karena hidup berdampingan dengan orang lain. Dan ketiga, karena kurang bahkan tidak ada kasih di dalam hati orang, dan karenanya ia tidak mampu untuk melihat kebahagiaan sesamanya dan sekaligus menerima kekurangan dirinya.”

Perbedaan perlakuan, perbedaan kasih yang diterima seorang anak dapat membuat kebencian terhadap gurunya dan juga terhadap teman-temannya. Perbedaan kedudukan yang berakibat perbedaan penghasilan dan kemudahan membuat seseorang membenci kawan dan atasannya. Perbedaan perhatian yang didapatkan seorang anak dari orangtuanya menimbulkan kebencian yang tidak berujung pangkal.

Kurangnya kasih bahkan tidak adanya kasih membuat hati diliputi oleh kabut gelap kebencian. Oleh karena itu satu-satunya cara untuk menghilangkan kebencian dalam hati kita adalah terus menerus berupaya untuk membesarkan kemampuan untuk mengasihi dengan tulus seraya terus belajar untuk ada bersama dan membiasakan diri untuk turut merasakan susah dan senang mereka yang berada di sekitar kehidupan kita.

Perlahan-lahan waktu dan keadaan akan membuat hati kita semakin luas dan semakin dimampukan untuk tidak terfokus hanya pada kepentingan diri. Semoga pada titik tempuh itu sudah tidak didapati lagi kebencian di dalam hati kita. (Pelangi Kehidupan)

Memberi Tanpa Mengingat-ingat, Menerima Tanpa Melupakan

Kalimat bernada setengah sinis seperti, ” hari gini, mana ada makan siang gratis ?”, rasanya cukup akrab terdengar di sekitar kita. Kata kata seperti itu menandakan bahwa kita hidup di dunia yang serba penuh perhitungan. Apapun dihitung untung ruginya. Saya membayar makan siangmu, kamu membayar makan malamku. Bukankah hidup ini lebih enteng rasanya kalau kita tidak harus menghitung dan mencatat segalanya?. Pengalaman hidup saya sendiri membuktikan bahwa hanya dalam memberi saya menerima. Artinya ketika saya memberi dengan tulus dan ikhlas, apakah itu materi, waktu, perhatian, maupun turut mendoakan, maka saya menerima kebahagiaan yang luar biasa dan tak terukur dengan uang, karena saya tahu bahwa balasan manusia itu terbatas dan mungkin mengecewakan. Tapi ketika Tuhan memberi, maka itu selalu dalam kelimpahan. Dunia memang sudah mulai asing dengan ketulusan dan keikhlasan. Dalam kepintarannya manusia melakukan berbagai hal untuk senantiasa mendapatkan keuntungan yang lebih. Saya tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh untung. Lha gimana mau hidup kalau tiap hari tekor ?. Keuntungan yang saya maksudkan adalah keuntungan yang membawa dampak baik bagi banyak orang, dan bukan semata mata berfokus pada diri sendiri. Mengapa kita harus iri dan takut melihat orang lain sukses atau diuntungkan ?. Rasa iri dan cemburu atas kesuksesan orang lain hanya akan menutupi jalan hidup kita sendiri, karena fokus kita ada pada kelebihan orang kain, bukannya bersyukur atas apa yang Tuhan sudah berikan bagi kita. Energi dan konsentrasi kita terbuang percuma pada kehebatan orang lain, dan kita malah lupa melangkah maju. Dengan memberi kita menyatakan secara tidak langsung rasa terima kasih kepada Tuhan karena kita masih diberikan kesempatan berbuat baik. Hanya orang hidup yang bisa memberi bukan ?. Memberi juga adalah tindakan pernyataan iman kita kepada Tuhan bahwa kita tidak takut kekurangan. Kita percaya bahwa kebaikan Tuhan itu akan selalu mencukupi. Bagi saya, inilah Iman; mempercayai tuntunan dan kebaikan Tuhan yang tak berkesudahan dalam hidup ini. Memberi mungkin bukan sesuatu yang sulit, bagian tersulitnya adalah tidak mengingat ingat apa yang sudah kita berikan. Ada satu perasaan ringan dan kelegaan yang luar biasa ketika kita bisa melakukan hal ini. Artinya kita melepaskan diri dari ikatan bergantung dan menanti balasan kembali dari si penerima. Itu sebabnya manusia banyak hidup dalam kekecewaan karena terlalu tekun mengingat dan mengharapkan kembali apa yang sudah diberikan. Ketika kita diberi kesempatan untuk menolong atau memberi kepada orang lain, berikanlah dengan penuh ketulusan. Tidak ada alasan bagi kita untuk menambah penuh kapasitas memori otak kita, karena sesunguhnya Tuhan tidak pernah lupa. Percayalah, alam ini selalu mengalir dalam keseimbangan. Tuhan bisa mencukupkan kita tanpa memiskinkan orang lain. Kita bisa memberi tanpa harus takut menjadi miskin. Memberilah dengan bijaksana. Artinya kita memberi dengan tujuan yang baik dan untuk membaiki kehidupan orang yang kita tolong . Kalau kita memberi uang padahal sudah jelas jelas uangnya nanti dipakai mabuk atau berjudi, kita malah jadi ikut berpartisipasi dalam hal yang tidak baik, dan semakin menghancurkan kehidupan orang itu. Saya tidak pernah mau memberi hutang. Saya orang akuntansi dan administrasi yang selalu harus mencatat segala sesuatunya. Ketika ada saudara atau kenalan yang datang meminta dipinjamkan uang, maka saya akan memberi sesuai dengan kemampuan saya secara ikhlas, dan tidak menganggapnya sebagai hutang. Dengan demikian saya bisa tidur lelap. Saya melepaskan diri sendiri dan orang lain dalam keikhlasan. Hutang itu merusak banyak sekali persahabatan dan mengacaukan hubungan baik. Jadi lebih baik saya tidak ikut berpartisipasi di dalamnya sebagai pemberi atau penerima. Sisi yang lain dari memberi adalah menerima. Banyak orang mungkin berpikir bahwa menerima itu enak. Kita berada di posisi yang diuntungkan. Justru bagi saya, menerima sesuatu dari orang lain selalu menjadi beban tersendiri, karena saya tidak bisa melupakan kebaikan orang lain dalam hidup saya. Orang tua saya menjadi contoh yang sangat baik dalam mendidik dan mengajarkan untuk tidak pernah melupakan budi baik orang lain. Apa jadinya dunia ini kalau semua orang hanya mau menerima tanpa membalas ?. Mungkin kita tidak diberikan kesempatan setara atau secara langsug membalas kepada si pemberi, tapi latihlah diri kita untuk mengingat kebaikan yang sudah kita terima, dan disiplinkan diri kita untuk berbuat hal yang sama kepada orang lain ketika kita diberikan kesempatan. Hanya dengan cara itu kebaikan bisa menjadi bola salju yang bergulir tanpa henti, dan kita dapat hidup di dunia yang dapat mewartakan indahnya kebaikan hati. Ketika kita memberi tanpa mengingat ingat untuk dibalas, kita dapat hidup dalam ketentraman hati yang tenang, ikhlas dan lega. Ketika kita menerima tanpa melupakan, maka kita menjadi penerus kebaikan yang konsisten mendatangkan lebih banyak kebaikan dimana saja kita berada.

It’s a wonderful world ?… Yes it’s certainly can be, when we can give without remembering, and take without forgetting.

source, kompassiana.com

memberi lebih baik, dari pada menerima

Intisari-Online.com – Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan orang, baik dari negara kaya maupun miskin, merasa lebih baik saat mendonasikan uangnya untuk suatu acara amal atau menyisihkan uang untuk orang lain dibandingkan saat mereka membeli sesuatu untuk diri mereka sendiri.

“Temuan kami menunjukkan bahwa pengalaman berupa ‘hadiah’ psikologis dari tindakan memberi pada orang lain mungkin tertanam dalam diri manusia secara alami, tanpa mengenal faktor budaya dan ekonomi,” tutur Lara Aknin dari Simon Fraser University, Kanada, yang menulis hasil penelitian ini.

Aknin dan rekan-rekannya meneliti dengan cara melakukan jajak pendapat pada 234.918 orang dari 126 negara di seluruh dunia. Mereka menemukan bahwa responden di seluruh dunia memiliki perasaan yang lebih baik setelah memberi sesuatu pada orang lain.

Perasaan tersebut merupakan perasaan yang universal di antara umat manusia tanpa harus membedakan tingkat pendapatan, struktur sosial, bahkan apakah negara mereka makmur atau tidak, bersih atau penuh korupsi.

Para peneliti menyatakan bahwa orang-orang merasa mengalami suatu peningkatan kesejahteraan karena terlah memberikan sesuatu pada orang lain. Tindakan tersebut juga terasa lebih berkesan dibandingkan mengeluarkan uang untuk keperluan diri mereka sendiri.

Dalam semua eksperimen, para responden dapat dengan mudah mengingat kapan waktu mereka membelikan suatu barang pada orang lain dibandingkan kapan mereka membeli suatu barang untuk diri mereka sendiri.

“Dari perspektif evolusioner, manfaat emosional yang dialami seseorang menolong orang lain atau perilaku dermawan lainnya memiliki manfaat bagi kelangsungan hidup manusia dalam jangka panjang,” ujar Aknin.

Memberi memang memiliki kekuatan (BusinessNewsDaily)